Chelsea Meminjamkan Banyak Pemain Muda Untuk Akselerasi Perkembangan

Pembinaan pemain muda yang dilakukan klub – klub Eropa ternyata jauh berbeda dengan klub di Indonesia. Tata kelola klub dan bagaimana mereka membangun tim muda serta memperoleh keuntungan dari pembinaan pemain muda menjadi hal – hal yang sangat membedakan pembinaan pemain muda di Eropa dengan di tanah air. Membeli pemain muda berbakat kini menjadi hal yang lazim dilakukan oleh klub – klub besar di Eropa. Sebuah kebijakan yang bertujuan melahirkan pemain – pemain bagus dari akademi sepakbola yang dimiliki sebuah klub. Barcelona mendatangkan Lionel Messi dari Argentina saat masih sangat muda. Klub asal Spanyol tersebut kemudian membina Messi hingga berkembang menjadi salah satu pemain terbaik dunia. Messi merupakan salah satu contoh pemain yang dibesarkan oleh klub di luar negaranya berkat kebijakan membeli pemain muda yang dilakukan. Chelsea menjadi salah satu klub elit Eropa yang menggunakan metode meminjamkan pemain guna mempercepat mereka berkembang

Meminjamkan Pemain Sebagai Bagian Dari Metode Pembinaan Pemain Muda Chelsea

Ada beberapa klub yang dikenal memiliki pembinaan bagus pada pemain muda dan mampu memperoleh banyak keuntungan dari penjualan pemain. Sebut saja West Ham United yang pernah membesarkan Joe Cole dan Frank Lampard yang akhirnya direkrut Chelsea. Cukup berbeda dengan di Indonesia; para pemain muda telah mendapat kontrak sebagai pemain yunior. Sebuah situasi yang membuat kebanyakan klub ingin memperoleh hasil maksimal dari pelatihan para pemain mereka. Salah satu cara memaksimalkan hasil pelatihan pemain yang dilakukan oleh klub – klub Eropa seperti Chelsea adalah memberi pengalaman bertanding pada pertandingan kompetitif sebanyak mungkin. Victor Moses menjadi salah satu pemain utama Chelsea musim ini yang merasakan banyak manfaat karena dipinjamkan ke klub lain.

Pada saat tim utama Chelsea telah diisi oleh pemain – pemain senior; sebuah klub biasanya akan memberi kesempatan bagi pemain muda menjalani pertandingan kompetitif yang sebenarnya dengan dipinjamkan ke klub lain. Memperoleh kesempatan bermain di tim utama meski terkadang di divisi atau liga yang lebih rendah; menjadi pilihan untuk menambah jam bermain seorang pemain muda di sebuah tim utama pada pertandingan kompetitif. Ada cukup banyak pemain muda berbakat yang saat ini tengah dipinjamkan oleh klub pemilik mereka agar memperoleh kesempatan berlatih dan bermain bersama tim utama. Pada awal musim ini; Chelsea telah meminjamkan 38 pemain ke klub lain untuk meningkatkan pengalaman bermain mereka.

Beberapa Pemain Muda Chelsea Dengan Penampilan Bagus Pada Masa Peminjaman

Beberapa Pemain Muda Chelsea Dengan Penampilan Bagus Pada Masa Peminjaman

Ada banyak pemain yang membangun reputasinya melalui masa peminjaman. Dipinjamkan ke klub lain dengan tujuan bermain di tim utama memang menjadi sebuah pilihan bijaksana untuk mematangkan seorang pemain muda. Berikut ini beberapa pemain pinjaman yang berpeluang menjadi pemain penting di tim utama klub mereka seusai menjalani masa peminjaman.

Lewis Baker ( Dipinjamkan ke Vitesse Arnhem )

Chelsea memang dikenal sering meminjamkan pemain ke klub asal Belanda. Permainan di Eredivisie yang banyak mengandalkan teknik daripada kekuatan fisik sepertinya cocok untuk mengembangkan mental dan kemampuan pemain muda tanpa terlalu memberi resiko pada fisik mereka. Lewis Baker merupakan salah satu pemain pinjaman dari Chelsea yang tampil mengesankan di musim ini. Pemain 21 tahun tersebut kini menjadi salah satu instrumen penting di lini tengah Vitesse Arnhem. Pada tahun 2014 saat Chelsea masih ditangani oleh Jose Mourinho; Baker bersama dengan Izzy Brown dan Dominic Solanke mulai dipinjamkan ke klub lain. Mourinho saat itu menjamin ketiganya akan menjadi pemain tim nasional dalam beberapa tahun ke depan dan jika hal tersebut tidak terjadi; maka ia siap menjadi pihak yang pantas disalahkan. Kini Baker di musim keduanya bersama Vitesse mulai memperlihatkan kemampuan hebatnya. Antonio Conte sepertinya siap membawa gelandang 21 tahun tersebut ke tim utama Chelsea untuk musim depan. Conte telah memberi cukup kepercayaan pada seorang Nathaniel Chalobah di musim ini; pemain muda lain milik Chelsea yang sempat merasakan masa peminjaman ke klub lain.

Andreas Christensen ( Dipinjamkan ke Borussia Monchengladbach )

Pemain belakang asal Denmark Andreas Christensen kini tengah menjalani tahun kedua dari 2 tahun masa peminjamannya ke klub Jerman Borussia Monchengladbach. Pemain internasional Denmark tersebut tampil mengesankan di Bundesliga dan menarik perhatian banyak klub besar Eropa hingga pertengahan musim ini. Pemain 20 tahun tersebut disebut – sebut menarik minat Bayern Munich dan juga Barcelona; namun pihak Chelsea sepertinya tidak akan melepas sang pemain mengingat kapten John Terry kemungkinan besar akan pensiun di akhir musim ini. Manajer Antonio Conte sepertinya juga akan butuh skuad yang besar mengingat Chelsea hampir pasti berlaga di Liga Champions Eropa musim depan.

Nathan Ake ( Dipinjamkan ke Bournemouth )

Pemain bertahan lain milik Chelsea yang kini tengah dipinjamkan ke klub lain adalah Nathan Ake. Pemain berusia 21 tahun tersebut sebenarnya belum juga mendapat tempat utama di skuad Bournemouth; namun penampilan bagusnya saat the Cherries mengalahkan Liverpool 4 – 3 membuat perhatian banyak terarah pada Ake. Format 3 pemain belakang yang diusung oleh Antonio Conte sepertinya memberi peluang bagi Nathan Ake dan Andreas Christensen untuk masuk ke tim utama Chelsea pada musim depan. Terlebih lagi saat Gary Cahill dan John Terry semakin kurang dapat diandalkan di lini belakang. Kompetisi yang padat musim depan dengan tambahan Liga Champions Eropa juga akan memaksa Chelsea memiliki skuad berkualitas dengan jumlah yang besar.

Tammy Abraham ( Dipinjamkan ke Bristol City )

Penyerang 19 tahun Tammy Abraham merupakan salah satu pemain muda Chelsea yang tampil mengesankan selama dipinjamkan. Penampilan Abraham di Bristol City membuat dirinya disebut – sebut akan menjadi Marcus Rashford di Chelsea. Bermain di Divisi Championship ternyata tidak terlalu membebani seorang Tammy Abraham; terbukti dengan 12 gol yang ia cetak setelah menjalani 22 pertandingan. Posisi Diego Costa di lini depan Chelsea sepertinya tidak akan tergantikan dalam beberapa musim mendatang; namun kompetisi Liga Champions Eropa musim depan sepertinya memungkinkan bagi seorang Antonio Conte untuk membawa kembali Abraham sebagai alternatif lini depan bersama Nathaniel Chalobah.

Baba Rahman ( Dipinjamkan ke Schalke 04 )

Baba Rahman merupakan salah satu pemain pinjaman dari Chelsea yang tidak begitu bersinar. Gaya bermain Schalke 04 sepertinya tidak begitu cocok dengan seorang Baba Rahman; namun pemain Chelsea lain seperti Victor Moses juga tidak tampil bagus semasa dipinjamkan ke Liverpool, Stoke City ataupun West Ham United. Rahman yang merupakan pemain internasional Ghana tersebut sepertinya akan lebih cocok jika dibawa kembali ke Chelsea yang memainkan wing back sebagai bagian dari lini tengah karena menggunakan sistem 3 bek tengah. Baba Rahman merupakan wing back dengan karakter menyerang; energi dan kecepatan seorang Rahman akan memberi alternatif bagi Conte untuk melapis seorang Marcos Alonso.

Ralph Hasenhuttl Menjadi Salah Satu Manajer Sukses Di Bundesliga

Rumor transfer pemain sepertinya menjadi topik yang selalu menarik. Bahkan ketika bursa transfer masih belum akan dibuka dalam waktu dekat ini. Selain perburuan klub untuk mendapatkan pemain – pemain terbaik; kabar mengenai perburuan manajer atau pelatih juga tidak kalah seru untuk diikuti. Salah satu manajer sepakbola legendaris yang pada akhir musim ini dikabarkan akan mundur dari posisinya adalah Arsene Wenger. Manajer asal Perancis yang telah menukangi the Gunners selama 2 dekade tersebut disebut – sebut akan mundur dari jabatan setelah musim ini berakhir. Arsenal memang kesulitan untuk memenangkan gelar prestisius dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah situasi yang membuat fans dan suporter banyak melontarkan kritik pada kebijakan transfer klub dan juga pada cara sang manajer mengelola tim.

Salah satu manajer yang dikabarkan menjadi kandidat untuk menggantikan posisi Arsene Wenger di Arsenal adalah seorang Ralph Hasenhuttl. Meski belum memiliki reputasi besar seperti Jurgen Klopp saan direkrut Liverpool atau Jose Mourinho dan Pep Guardiola yang direkrut Manchester United dan Manchester City di awal musim ini; namun Ralph Hasenhuttl memiliki prestasi tersendiri. Salah satu keunikan yang ditunjukkan oleh Ralph Hasenhuttl adalah kemampuannya membangun tim dan meracik strategi dengan keterbatasan pemain yang dimiliki. Kecermatannya membidik pemain muda berbakat memang mirip dengan seorang Arsene Wenger yang dikenal memiliki kemampuan istimewa memoles pemain berbakat menjadi pemain hebat. Sebut saja Patrick Vieira dan Theirry Henry yang berkembang menjadi pemain – pemain terbaik dunia di bawah arahan seorang Arsene Wenger. situs judi bola

Beberapa Hal Menarik Tentang Seorang Ralph Hasenhuttl

Ralph Hasenhuttl merupakan mantan pemain sepakbola profesional berkebangsaan Austria. Ia bermain sebagai penyerang pada saat masih aktif bermain. Setelah menjalani karir sebagai pemain yang tidak dapat disebut sangat sukses di Austria, Belgia dan Jerman; Hasenhuttl segera beralih menjalani karir sebagai pelatih. Pada saat mendekati akhir karirnya sebagai pemain; Hasenhuttl bermain untuk tim U23 Bayern Munich; ia menjadi satu dari 2 pemain senior dengan usia di atas 23 yang diperbolehkan bermain untuk tim U23. Pada saat yang sama; ia memanfaatkan waktunya di Jerman untuk mengikuti kursus kepelatihan dan mendapatkan lisensi sebagai pelatih sepa tim sepakbola; mengingat dirinya yang merupakan orang Austria. Jika ia gagal memanfaatkan peluang saat menangani sebuah klub; maka akan sulit mendapatkan kesempatan kedua untuk meraih sukses dan membangun reputasi. Ralph Hasenhuttl sangat menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki reputasi mengesankan; baik sebagai pemain maupun sebagai manajer pada awal karir kepelatihannya. Klub pertama yang ia tangani adalah Unterhaching; sebuah tim di sebuah distrik kota Munich di kompetisi 3.Bundesliga. Hasenhuttl sukses membawa Unterhaching mencapai peringkat keenam dan keempat pada 2 musim pertamanya dan kemudian dipecat pada musim ketiga. Keberhasilan mengangkat prestasi Unterhaching di divisi 3 Bundesliga tersebut sepertinya cukup mengesankan bagi beberapa pihak. Sebuah prestasi yang mulai memberi Hasenhuttl reputasi baik sebagai seorang manajer.

Reputasi bagus Hasenhuttl semakin dikenal setelah ia menangani klub VfR Aalen; masih di di divisi 3 Bundesliga. Pada saat Aalen menunjuk Hasenhuttl sebagai manajer pada bulan Januari 2011; mereka hanya memiliki 1 poin di atas zona degradasi. Hasenhuttl sepertinya sangat sadar bahwa ia akan butuh waktu untuk menanamkan dan menuai hasil dari filosofi bermain sepakbola yang ia miliki. Permainan dengan memaksimalkan penguasaan bola diyakini Hasenhuttl sebagai cara terbaik untuk menyelamatkan VfR Aalen dari degradasi. Keyakinan bahwa jika para pemain berlatih keras dan setiap pemain berhasil memahami permainan dengan gaya posession atau penguasaan bola maka kemenangan dapat diraih menjadi dasar dari program Hasenhuttl di Aalen. Gaya sepakbola yagn diterapkan oleh Hasenhuttl menuai hasil positif; VfR Aalen berhasil bertahan di divisi 3 dan transformasi permainan tim mulai terlihat baik. Para pemain VfR Aalen bekerja keras dan hasilnya sangat mengesankan; mereka sukses meraih promosi ke divisi 2.Bundesliga. Satu hal penting yang berhasil diraih Ralph Hasenhuttl bersama tim VfR Aalen adalah mereka sukses memainkan sepakbola pressing tinggi atau gegenpressing yang dipopulerkan Jurgen Klopp bersama Borussia Dortmund; namun dengan versi mereka sendiri. Hasenhuttl mengatakan bahwa setiap kali timnya akan bertanding; mereka harus memikirkan cara agar lawan mengalami kesulitan dengan cara mereka bermain.

(Baca juga: Analisa 4 Kekuatan di Semifinal Liga Champions 2017)

Ada kisah unik mengenai ketertarikan dan proses mempelajari permainan serta cara berlatih gegenpressing yang dilakukan seorang Ralph Hasenhuttl. Ia pertama kali melihat gaya permainan gegenpressing di sebuah pemusatan latihan tim Borussia Dortmund yang waktu itu ditangani Jurgen Klopp. Sesaat setelah dipecat Unterhaching; Hasenhuttl sempat mengambil jeda dari dunia kepelatihan. Pada masa itulah seorang Hasenhuttl mempelajari cara – cara berlatih beberapa klub di sekitar kota Munich. Ia seringkali bersepeda berkeliling kota Munich untuk menyempatkan diri menyaksikan sesi latihan terbuka yang dilakukan klub TSV 1860 Munich dan juga Bayern Munich. Aktivitas menonton sesi latihan tersebut juga ia lakukan ketika pulang ke Austria. Suatu waktu Hasenhuttl pernah memata – matai pemusatan latihan pra musim Borussia Dortmund di Austria saat masih ditangani Jurgen Klopp. Hasenhuttl menyamar dengan menaiki sepeda gunung dan mengenakan helm agar tidak ada orang yang mengenalinya. Mengamati sesi latihan dari beberapa tim untuk melihat cara pemain berlatih dan manajer bekerja menjadi sesuatu yang mendasari Hasenhuttl mengembangkan caranya sendiri melatih dan menangani tim.

Ralph Hasenhuttl Memiliki Kemampuan Membalikan Keadaan Dan Membangun Tim

Salah satu nilai lebih yang dimiliki oleh seorang Ralph Hasenhuttl sebagai seorang manajer adalah kemampuannya membangun tim dan menularkan filosofi bermainnya pada para pemain. Hal lain yang membuat ia istimewa adalah kemampuannya membalikkan keadaan pada saat mengalami tekanan. Setelah merasa tidak mampu lagi menaikkan performa VfR Aalen dengan skuad yang ada di tahun 2013; Hasenhuttl memutuskan mundur dari kursi manajer. VfR Aalen berada di papan tengah klasemen akhir 2.Bundesliga pada waktu itu. Hasenhuttl mengawali musim 2013/14 tanpa klub untuk ditangani; namun pada bulan Oktober ia mendapat tawaran untuk menangani Ingolstadt. Menangani sebuah tim yang tengah berjuang keluar dari zona degradasi dirasa memberi tantangan tersendiri oleh Hasenhuttl. Ingolstadt tengah berada di dasar klasemen 2.Bundesliga pada waktu itu dan Hasenhuttl sukses menyelamatkan mereka dari degradasi.

Kejutan kemudian muncul di musim berikutnya; Hasenhuttl yang memimpin Ingolstadt sejak awal musim sukses mengakhiri musim 2014/15 dengan memperoleh promosi ke divisi utama Bundesliga. Setelah mengakhiri musim 2015/16 di papan tengah Bundesliga bersama Ingolstadt; Hasenhuttl memutuskan untuk kembali ke akarnya sebagai pria Austria dan menangani RB Leipzig. Sukses besar berhasil diperoleh Hasenhuttl bersama RB Leipzig yang ia bawa meraih promosi hingga divisi utama Bundesliga. Ralph Hasenhuttl mengaku lebih tertarik pada permainan sepakbola dibandingkan dengan tradisinya. Membicarakan cara memainkan sepakbola menarik dan memenangkan pertandingan disebut Hasenhuttl lebih penting serta menarik daripada membicarakan siapa yang mendanai sebuah klub. Kesuksesan yang ia peroleh bersama RB Leipzig kembali membalikkan keadaan mengingat klub tersebut disebut – sebut sebagai klub paling dibenci di Jerman karena merupakan klub baru dan tidak memiliki suporter tradisional. Sukses bersama RB Leipzig; membuat Hasenhuttl banyak dikaitkan dengan peluang menangani klub besar Eropa.

Skuad Manchester United Mengalami Masalah Serius Karena Cedera Pemain

Manchester United menunjukkan peningkatan performa yang menarik di paruh kedua musim ini. Setelah kesulitan meraih kemenangan dan menunjukkan permainan yang baik di awal musim; Jose Mourinho mulai menemukan kemampuan terbaik dari skuad yang ia miliki dan menunjukkan peningkatan yang berarti. Keberhasilan mengalahkan Anderlecht dengan agregat 3 – 2 membawa Manchester United melaju ke babak semifinal kompetisi Liga Eropa musim ini. Hanya saja masalah serius tengah menghantui skuad Jose Mourinho terkait cedera yang dialami oleh para pemain. Salah satu masalah utama klub – klub Inggris untuk meraih prestasi bagus di kompetisi Eropa adalah banyaknya kasus cedera yang dialami oleh para pemain. Kini situasi yang sama juga dialami oleh Manchester United yang merupakan satu wakil Inggris yang bertahan di kompetisi Eropa musim ini.

Manchester United Diterpa Badai Cedera

Daftar pemain cedera yang ada di skuad Manchester United kembali bertambah setelah 2 pemain utama mereka mengalami cedera di leg kedua pertandingan melawan Anderlecht. Pemain belakang Marcos Rojo dikabarkan harus absen di sisa musim ini karena mengalami cedera serius di ligamen lutut kirinya. Pemain belakang 27 tahun tersebut harus ditandu keluar lapangan di babak pertama pertandingan melawan Anderlecht yang berakhir dengan skor 2 – 1 untuk kemenangan Manchester United tersebut. Rojo mengalami cedera setelah berusaha melakukan tekel dan sempat berusaha melanjutkan pertandingan; namun beberapa menit kemudian ia memberi tanda untuk digantikan oleh pemain lain. Pemain internasional Argentina tersebut kemudian dipastikan mengalami cedera di ligamen lutut kiri dan harus menjalani prosedur operasi untuk proses pemulihannya. Cedera yang dialami Rojo yang menjadi pilihan pertama lini belakang Manchester United dalam beberapa pekan terakhir sepertinya akan memaksa Jose Mourinho melakukan perubahan susunan pemain ataupun strategi.

Sebelum cedera yang dialami oleh Marcos Rojo; Manchester United juga telah kehilangan Phil Jones dan Chris Smalling karena mengalami cedera. Sang manajer mengaku sangat berharap Jones dan Smalling menjalani masa pemulihan lebih cepat sehingga ia kembali memiliki cukup pemain di lini belakang. Daley Blind sepertinya akan menjadi pilihan menggantikan posisi Rojo di lini belakang pada beberapa pertandingan mendatang. Mourinho juga mengatakan bahwa kini telah tiba waktunya bagi Jones dan Smalling untuk lebih berani dalam mengambil keputusan meski keputusan tersebut beresiko mengingat tim Manchester United sangat membutuhkan mereka.

Jose Mourinho sempat berselisih dengan Smalling yang tidak bersedia dimainkan dengan alasan tidak dalam kondisi fit pada beberapa bulan lalu. Sang manajer sempat melontarkan kritik keras pada bek tengah Inggris tersebut karena dianggap tidak berusaha memberi yang terbaik bagi tim. Namun Mourinho juga menambahkan bahwa Jones dan Smalling kemungkinan besar tidak dapat tampil saat Manchester United dijamu Burnley di Stadion Turf Moor. Mourinho mengatakan bahwa dengan keberanian yang sangat besarpun; kedua pemain belakang tersebut tidak akan dapat dimainkan pada pertandingan di Turf Moor. Pertengahan atau awal bulan Mei sepertinya menjadi target yang lebih rasional untuk kembali membawa Jones dan Smalling ke lapangan hijau. Sementara itu; Daley Blind yang memiliki pengalaman dan kemampuan untuk dimainkan sebagai pemain belakang akan menjadi pilihan utama Mourinho dalam beberapa pertandingan mendatang sambil menunggu perkembangan Jones dan Smalling.

Cedera Serius Juga Dialami Oleh Zlatan Ibrahimovic

Cedera serius juga dialami oleh penyerang veteran Zlatan Ibrahimovic pada pertandingan melawan Anderlecht. Ibrahimovic merupakan pencetak gol utama Manchester United di musim ini dan kehilangan penyerang Swedia tersebut akan menjadi masalah serius bagi lini depan Setan Merah. Ibrahimovic mengalami cedera menjelang akhir pertandingan melawan Anderlecht setelah terjatuh saat mencoba mengontrol sebuah umpan lambung. Ibra juga didiagnosis mengalami cedera serius pada bagian ligamen lutut dan akan membutuhkan prosedur operasi untuk pemulihannya. Ibra diprediksi harus absen dari lapangan hijau hingga bulan Januari 2018 mendatang; sedangkan Rojo diperkirakan sudah akan pulih pada bulan September tahun ini.

Zlatan Ibrahimovic merupakan tumpuan Manchester United di lini depan sejak awal musim; terutama setelah penampilan Wayne Rooney terus menurun. Ibrahimovic telah mencetak 28 gol di 46 pertandingan yang ia jalani bersama Manchester United sejak didatangkan dengan status free transfer dari Paris Saint Germain di awal musim ini. Cedera yang dialami oleh penyerang 35 tahun tersebut dapat berdampak buruk pada masa depan sang pemain di Old Trafford mengingat kontrak sang pemain akan habis di akhir musim ini. Meskipun begitu; Jose Mourinho telah menyatakan bahwa Zlatan Ibrahimovic telah memenuhi setiap kriteria untuk menambah perpanjangan kontrak 1 musim setelah musim 2016/17 berakhir. Hanya saja pihak Manchester United belum memberi penjelasan apakah pihak mereka diwajibkan untuk memperpanjang kontrak Ibrahimovic setelah cedera yang ia alami. Sang penyerang dikabarkan telah menarik minat beberapa klub Major League Soccer dari Amerika Serikat. LA Galaxy dikabarkan tertarik untuk mendatangkan Ibra; sedangkan klub baru LA FC yang baru akan aktif di bulan Maret 2018 juga disebut – sebut sangat tertarik mendatangkan sang pemain.

Cedera Dapat Menjadi Berkah Bagi Pemain Lain Di Skuad MU

Cedera yang dialami oleh Zlatan Ibrahimovic dapat menjadi berkah tersendiri bagi seorang Marcus Rashford. Penyerang 19 tahun tersebut tampil mengesankan pada penghujung musim lalu; namun kesempatan bermain yang ia miliki sebagai ujung tombak menjadi terbatas di musim ini karena kedatangan Ibrahimovic. Kini setelah Ibrahimovic mengalami cedera; peluang bagi Rashford untuk menjadi penyerang utama Manchester United sangat terbuka. Marcus Rashford merupakan pahlawan kemenangan Manchester United atas Anderlecht setelah mencetak gol penentu di babak perpanjangan waktu. Rashford mencetak sebuah gol dengan kaki kiri di menit 107 setelah lolos dari kawalan dan mampu melakukan tembakan ke arah gawang lawan di ruang sempit.

Dukungan pada seorang Marcus Rashford segera diberikan oleh legenda Manchester United Paul Scholes. Mantan gelandang serang Setan Merah dan tim nasional Inggris tersebut menyebut Rashford sebagai penyerang yang brilian dan memiliki peluang menjadi penyerang hebat seperti Ronaldo dan Neymar. Marcus Rashford merupakan pemain binaan akademi sepakbola Manchester United dan telah menjadi salah satu pemain penting di skuad Manchester United dan Inggris meski baru berusia 19 tahun. Scholes mengaku yakin bahwa Marcus Rashford akan menjadi penyerang hebat setelah melihat pemain tersebut bermain untuk tim yunior dan mencetak 30 hingga 40 gol dalam 1 musim. Hasil tersebut itu disebut Scholes berkat kecepatan, skill kontrol bola dan kemampuannya lolos dari kawalan pemain lain yang dimiliki Rashford.

Pihak Manchester United kini tengah melakukan negosiasi dengan pihak FA yang ingin membawa Marcus Rashford ke turnamen Piala Eropa U21 yang akan berlangsung di Polandia. Tim nasional Inggris U21 yang kini ditangani Aidy Boothroyd dikabarkan sangat ingin memasukkan penyerang 19 tahun tersebut ke dalam skuad; namun perkembangan Rashford di tim utama Manchester United dan tim nasional senior Inggris sepertinya akan menjadi bahan pertimbangan sebelum memutuskan melepas sang pemain bergabung dengan skuad timnas Inggris U21. Jose Mourinho menilai tidak ada kepentingan bagi Rashford untuk berangkat ke Polandia. Sama seperti keputusan Nicky Butt yang merupakan kepala akademi sepakbola Manchester United untuk tidak memasukkan sang pemain ke tim U23 meski akan menjalani sebuah laga penting.

Membaca Peta Kekuatan 4 Semifinalis Liga Champions Eropa Musim Ini

Liga Champions Eropa sebagai salah satu kompetisi tahunan yang menarik minat banyak penonton. Pertemuan klub – klub elit Eropa menjadi alasan mengapa kompetisi tersebut menjadi sangat menarik. Di sisi lain; Liga Champions Eropa juga menjadi target banyak klub besar Eropa. Selain pamor yang mentereng; bermain sebanyak mungkin di kompetisi Liga Champions Eropa atau memenangkannya juga akan memberi peluang untuk mendapatkan pemasukan serta hadiah dalam jumlah besar. Liga Champions Eropa musim ini akan segera memasuki babak semifinal; beberapa kejutan telah terjadi di babak perempat final dan kompetisi tinggal menyisakan 4 tim saja. Barcelona secara mengejutkan disingkirkan oleh Juventus yang tampil mengesankan di 2 leg yang telah dijalani. Sebuah fakta yang kemudian menempatkan Juventus sebagai kandidat kuat juara Eropa di musim ini. Terlebih lagi Juventus juga diuntungkan dengan pilihan lawan di babak semifinal. Tim asuhan Massimiliano Allegri tersebut akan bertemu dengan AS Monaco yang kini memuncaki klasemen sementara Ligue 1. Terhindar dari duo Madrid tentu menjadi sebuah keuntungan meski AS Monaco juga bukan lawan yang mudah untuk dikalahkan. Hanya saja Atletico Madrid dan Real Madrid merupakan 2 klub dengan tradisi bagus di kompetisi Liga Champions Eropa.

Pertemuan rival sekota Real dan Atletico Madrid menjadi pertemuan yang ke sekian kalinya di kompetisi Eropa. Atletico Madrid berada di posisi yang kurang diunggulkan mengingat catatan pertemuan antara kedua tim di kompetisi Eropa memang menunjukkan Real Madrid lebih perkasa. Di sisi lain; pertemuan keduanya dapat menjadi ajang balas dendam yang sangat dinanti oleh kubu Atletico Madrid. Terutama setelah peluang menjadi juara La Liga di musim ini nyaris tertutup bagi tim asuhan Diego Simeone tersebut. Motivasi tinggi untuk membalas sakit hati karena dikalahkan Real Madrid di musim lalu dapat menjadi nilai lebih yang menguntungkan Antoine Griezmann dan kawan – kawan. Di sisi lain; Real Madrid yang harus menjaga fokus dengan kompetisi domestik sepertinya juga ingin mempertahankan gelar juara Eropa yang diraih mereka di musim lalu.

Analisis Kekuatan Menjelang Semifinal Liga Champions Eropa Antara Real Madrid vs Atletico Madrid

Pertemuan antara juara bertahan Real Madrid dan finalis musim lalu Atletico Madrid di babak semifinal sepertinya menjadi pertandingan yang sering terjadi dalam beberapa musim ini. Real dan Atletico Madrid telah bertemu di 2 babak final dan 1 babak perempat final di 3 musim Liga Champions Eropa secara berturut – turut. Catatan di musim ini pada partai derby kota Madrid memang mengunggulkan tim asuhan Zinedine Zidane. Cristiano Ronaldo dan kawan – kawan mencatat kemenangan di semua pertemuan antara kedua tim akhir – akhir ini. Memenangkan 2 atau setidaknya 1 pertandingan lagi sepertinya menjadi tugas yang tidak begitu berat. Di sisi lain; kekalahan demi kekalahan yang dialami oleh Atletico Madrid saat melawan tim sekota mereka dapat memicu motivasi tinggi untuk balas dendam. Kembali lolos ke partai final Liga Champions Eropa yang akan berlangsung di Stadion Millenium Cardiff sepertinya tetap menjadi target yang masuk akal bagi tim asuhan Diego Simeone. Justru ketika mereka sukses mengatasi Real Madrid di partai semifinal; maka partai final dapat dijalani dengan tekanan yang lebih kecil.

Pada pertemuan terakhir antara Atletico Madrid dan Real Madrid yang terjadi di Santiago Bernabeu kurang lebih 2 pekan lalu; kedua tim berbagai angka sama 1 – 1. Tim tuan rumah Real Madrid unggul terlebih dahulu pada pertandingan tersebut sebelum akhirnya seorang Antoine Griezmann menyamakan skor dan menyelamatkan 1 poin di kandang El Real. Hanya saja kekalahan 0 – 3 di Vicente Calderon pada bulan November tahun lalu menunjukkan Real Madrid memiliki mental yang sangat baik dan juga skuad yang lebih kuat. Meningkatkan performa tim setelah kalah dan kemudian bermain imbang untuk kemudian meraih kemenangan sepertinya masih mungkin dilakukan Simeone. Terlebih lagi memang Atletico Madrid terbilang mengawali musim ini dengan buruk dan baru mulai menunjukkan konsistensi setelah kompetisi memasuki pertengahan musim.

Penampilan Real Madrid di babak perempatfinal sebenarnya kurang mengesankan. Melawan Bayern Munich yang kini ditangani oleh Carlo Ancelotti; El Real harus dibantu dengan keberuntungan berupa kartu merah kontroversial dan keputusan offside yang menguntungkan sebelum mampu mendominasi pertandingan. Bermain dengan disiplin tinggi dan meminimalisir kesalahan sepertinya wajib dilakukan oleh Atletico Madrid jika ingin menyingkirkan Real Madrid dari partai final. Motivasi lain bagi Atletico Madrid ada pada kesempatan mencatat sejarah manis dengan mengalahkan Real Madrid di Vicente Calderon sebelum pindah ke stadion baru untuk musim depan.

Analisis Kekuatan Menjelang Semifinal LIga Champions Eropa Antara AS Monaco vs Juventus

Jika Real Madrid dan Atletico Madrid merupakan 2 tim yang sering bertemu; AS Monaco dan Juventus merupakan 2 tim yang jarang bertemu. Meskipun begitu; kedua tim sebenarnya pernah bertemu di fase gugur Liga Champions Eropa 2 musim lalu. Juventus lolos ke babak perempat final dengan agregat tipis 1 – 0 dan pertandingan tersebut merupakan pertandingan kedua yang pernah dijalani kedua tim. Pertemuan pertama antara Juventus dan AS Monaco terjadi ada semifinal Liga Champions Eropa tahun 1998 yang juga dimenangkan oleh Juventus.

Hanya saja kubu AS Monaco telah mengalami banyak perubahan; terutama dengan kemunculan pemain – pemain muda. Wakil Perancis tersebut telah mengalami banyak perubahan sejak musim 2014/15 yang memunculkan sosok Anthony Martial serta Bernardo Silva. Gaya permainan menyerang yang dikembangkan oleh Leonardo Jardim sangat didukung oleh karakter pemain yang kini mereka miliki. Kecepatan Kylian Mbappe serta duet full back yang eksplosif pada diri Benjamin Mendy dan Djibril Sidibe. Keberhasilan mereka menjungkalkan Borussia Dortmund di babak perempatfinal menjadi bukti agresivitas permainan AS Monaco.

Ada banyak hal menarik yang menyelimuti pertemuan kedua tim di babak semifinal Liga Champions Eropa musim ini. Kedua tim sama – sama tengah memuncaki klasemen sementara liga domestik; sementara gaya bermain antara kedua tim sangat jauh berbeda. Jika AS Monaco memenangkan pertandingan dengan mendorong semua pemain maju menyerang; Juventus merupakan tim dengan keunggulan di lini pertahanan. Lini belakang yang disiplin dan sangat tangguh serta memiliki koordinasi istimewa akan menjadi ujian berat bagi lini serang AS Monaco. Juventus berhasil mematikan permainan agresif Barcelona di leg kedua dan mempertahankan keunggulan 3 – 0 yang diraih di leg pertama. Kebobolan 2 gol di 10 pertandingan Liga Champions Eropa merupakan rekor yang fenomenal dari tim asuhan Massimiliano Allegri tersebut.

Lini depan Juventus juga terbilang istimewa; Gonzalo Higuain yang didatangkan di awal musim ini telah mencetak total 29 gol. Sedangkan Paulo Dybala yang mencetak 2 gol ke gawang Barcelona telah mencatat 16 gol meski sempat mengalami cedera cukup panjang. Kecerdikan para pemain di lini tengah Juventus akan sangat diperlukan guna menemukan celah untuk menyerang dan mencetak gol. Sosok Juan Cuadrado dan Miralem Pjanic pantas diwaspadai oleh lini belakang AS Monaco karena kemampuan mereka menemukan ruang gerak atau kesempatan mengirim umpan kepada pemain di sekitar gawang lawan. Setelah terakhir kali mengangkat tropi juara Eropa di tahun 1996; motivasi tinggi pantas dimiliki oleh Juventus di musim ini.